IPA Kelas 8 | Mengenal Hukum Mersenne pada Senar dan Contoh Konsepnya di Kehidupan Sehari-hari

Siapa yang pernah main gitar? Coba deh kamu liat mamang-mamang gitaris seperti Roma Irama atau Apoy Wali (sebentar, kenapa referensi saya ini ya?). Pokoknya, perhatiin saat mereka memetik gitar. Saat menggenjreng gitar di bagian belakang (dekat lubang), pasti bunyi yang keluar akan lebih nge-bass dibanding saat menggenjreng dekat dengan leher gitar.

Bunyi yang timbul saat bagian ujung leher gitar digenjreng paling cuma “Cring! Cring! Cring!”

Padahal, kita, kan menggunakan gitar yang sama. Tanpa diubah apapun. Tapi, kenapa bunyi yang dihasilkan bisa berbeda ya?

Pertanyaan ini sudah dijawab oleh Marin Mersenne, ilmuwan Perancis, ratusan tahun yang lalu, saat ia membuat benda bernama Sonometer. Tunggu, alat ini bukan untuk menghitung seberapa banyak Sono yang didapat seseorang ya.

‘Kalo aku chat ke kamu ada yang marah nggak?’

‘Sono! Sono! Basi lo kayak pemeran FTV di SCTV!’

2 Sono.

Sonometer ini dibuat untuk mencari tahu hubungan antara frekuensi bunyi terhadap beberapa hal. Seperti jarak tumpuan senar, misalnya. Seperti yang di awal kita bahas. Ternyata, semakin panjang jarak senar, frekuensi yang dihasilkan akan semakin rendah.

Selain panjang senar, Mersenne mendapatkan hubungan antara variabel lain. Seperti luas permukaan dan massa jenis.

Ya, penemuan ini kemudian dirangkumnya ke dalam buku L’Harmonie Universelle pada tahun 1637. Akhirnya, dia pun mencetuskan hukum mersenne yang telah disederhanakan menjadi seperti ini:

Eits, tenang dulu. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Meskipun keliatannya bikin mabok, tapi rumus itu gampang kok. Asal tahu konsepnya soal bagian mana yang berbanding terbalik dengan frekuensi, pasti ngeliat rumus itu gak serem lagi.

Biar nggak lupa, mari kita ulang lagi.

Bayangkan sebuah gitar. Ketika kamu menggenjreng di bagian depan (dekat leher gitar), pasti bunyinya nyaring. Itu artinya, semakin pendek jaraknya, frekuensinya makin tinggi (berbanding terbalik). Begitu pula dengan massa jenis, dan luas permukaan senarnya.

Yang dimaksud dengan luas permukaan senar di sini adalah bagian buletan yang sangat kecil dari senar itu yaa. Kalau di sedotan, luas permukaan adalah bagian luas dari “lingkaran” yang bolong itu. Kalau balik lagi ngebayangin senar, kamu pasti berpikir, ‘Itu mah kecil banget kak!’

Nah, emang iya.

Luas permukaan senar kecil, Tapi kangennya besar 🙁 berpengaruh.

Kalau kamu perhatiin, senar bagian atas gitar (yang tebal) bersuara nge-bass, sementara senar-senar bawah (yang tipis) dipakai gitaris untuk memetik melodi. Artinya, semakin tebal (luas permukaannya besar), maka frekuensinya rendah. Berbanding terbalik juga kan.

Adapun variabel yang berbanding lurus terhadap frekuensi adalah gaya. Coba deh, kamu memetik gitar dengan lebih kencang, pasti suaranya lebih nyaring. Bandingkan dengan petikan yang lembut dan pelan, pasti bunyi yang keluar akan lebih syahdu (halah syahdu).

sumber: ruangguru

This image has an empty alt attribute; its file name is iklan-nempel-di-post-1024x225.jpg

Nah sahabat Nata itulah Mengenal Hukum Mersenne pada Senar dan Contoh Konsepnya di Kehidupan Sehari-hari, jika kamu ingin belajar dengan efektif dan efisien dengan cara menghadirkan guru ke rumah, salah satunya ada program bimbel privat bandung di Nata Privat. Guru datang ke rumah siswa dan akan membimbing siswa dalam pembelajaran maupun menjadi partner dalam belajar atau teman dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Tunggu apalagi segera daftar di 081214140044. Semangat!

Tags: bimbel privat bandung, les privat bandung, guru privat bandung, guru les privat ke rumah bandung, guru privat ke rumah , guru privat ke rumah bandung, guru les privat bandung, les privat murah bandung, tempat les privat di bandung, bimbel bandung, belajar privat bandung, guru ke rumah bandung, guru les bandung

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *